March 5, 2008 by Ananda Putra
Sebaiknya halte busway jangan berdekatan. Lebih baik agak berjauhan, misalnya minimal tiap 2 KM, agar busway lebih cepat sampai ketujuannya karena tidak banyak berhenti.
Sebagai gantinya, pemkot DKI Jakarta harus membangun trotoar yang lebih lebar, nyaman, aman, dan diteduhi pohon-pohonan. Dengan trotoar yang baik seperti itu, saya yakin orang lebih memilih jalan kaki untuk menempuh jarak 2 KM tsb.
Posted in Uncategorized | 1 Comment »
February 25, 2008 by Ananda Putra
Pemprov DKI Jakarta membangun Busway dengan tujuan agar kemacatan lalu lintas di Jakarta dapat di kurangi. Namun sejumlah pengamat mengatakan pembangunan Busway tersebut akan gagal mencapai tujuannya. Salah satu penyebab kegagalan tersebut adalah tidak adanya fasilitas tempat parkir yang aman dan murah di pangkal jalur Busway di pinggir Jakarta, sehingga para pemilik mobil tetap saja membawa mobilnya masuk ke Jakarta.
Namun saya pikir-pikir, sepertinya Busway tetap tidak mengurangi kemacatan di Jakarta seandainya pun fasilitas parkir yang aman dan murah tersebut dibangun. Penyebabnya tak lain adalah budaya/kebiasaan masyarakat Indonesia yang masih mementingkan kenyamanan sendiri. Ketika fasilitas parkir tersebut telah dibangun, maka pada awalnya kemacatan akan berkurang, dan kemudian ketika kemacatan tersebut telah berkurang, pemilik mobil akan berpikiran: “Sekarang Jakarta sudah tidak macat lagi, pakai mobil aja ke Jakarta”. Dan akhirnya kemcatan itu kembali terulang karena yang berpikir seperti itu banyak.
Solusinya, selain pembangunan fasilitas infrastrukturnya, pembangunan budaya masyarakat juga harus dilakukan.
Posted in Uncategorized | No Comments »
January 17, 2008 by Ananda Putra
Baca di sini, di sini, dan di sini. Harapanku semoga MySQL menjadi lebih baik dan SUN tidak mengubah programming languagenya menjadi Java yang lamban.
Komentar terlucu di Digg : WHAT? Didn’t they know they could just download it and run without buying it?
Posted in FOSS | No Comments »
January 15, 2008 by Ananda Putra
Mereka yang mendukung beralasan bahwa “Sensor membendung kreatifitas”. Ketika ada yang membantah bahwa sensor masih dibutuhkan untuk melindungi penonton dari film-film yang mengandung sadisme dan seksualitas, mereka pun lantas berdalih dengan mengatakan cukup dirikan lembaga klasifikasi film untuk menentukan kategori penonton film-film tersebut.
Di sini saya hanya ingin menyampaikan, insan-insan film yang menginginkan LFS dibubarkan itu lupa bahwa film bukan hanya sebuah media hiburan; bukan hanya sebuah media seni; bukan hanya sebuah wadah penyaluran kreatifitas; tapi film juga merupakan media pendidikan, terlebih lagi film juga merupakan MEDIA PROPAGANDA!
Bayangkan jika tidak ada LSF, bangsa ini akan dapat diberondong propaganda-propaganda buruk yang menghancurkan negeri ini. Mudah-mudahan insan-insan film itu tidak lupa dengan hal ini.
Jika mereka beralasan sensor membendung kreatifitas, bukankah itu merupakan sebuah tantangan untuk membuat suatu kreatifitas yang lebih baik yang dapat diterima semua pihak. Kreatifitas yang baik itu adalah kreatifitas yang dapat dinikmati dan bermanfaat bagi orang lain, bukan?
Posted in Uncategorized | 4 Comments »
November 22, 2007 by Ananda Putra
Apakah sudah ada operator telekomunikasi selular yang berpikir untuk membuat Ring Back Tone (RBT) yang isinya iklan? Pelanggan yang memasang suatu iklan sebagai RBT di handphonenya diberikan reward, misal, dalam bentuk pulsa, sedangkan sang operator mendapat fee dari pemasang iklan. Jadi yang membayar RBT itu ya si pemasang iklan. Sepertinya bisnis yg menguntungkan.. hehe..
Contoh perhitungan reward untuk pelanggan besarannya bisa ditentukan dari seberapa lama dia tidak menjawab panggilan masuk (membiarkan pemanggil mengedengarkan iklan). Efek sampingnya bakal ada orang yang kesal karena dibiarkan berlama-lama mendengarkan iklan, jadi harus ada batas waktu juga yah.
Kalaupun operator tidak bisa memberikan produk pemasangan iklan sebagai RBT ini, mungkin karena dianggap di luar main business telco, ide ini masih bisa diterapkan dengan melakukan kerjasama dengan perusahaan lain sebagai penyedia content iklan. Jadi perusahaan tersebutlah yang mencari para pemasang iklan dan mengelolanya, bagi operator bisa dikategorikan sebagai VAS (value added service) dan tetap ada pemasukan dari sang penyedia content.
Menarik, bukan?
Posted in Ide | 1 Comment »
November 20, 2007 by Ananda Putra
“Perang” antara Pemerintah Indonesia dan Temasek Holdings adalah perang yang lucu. Pemerintah Indonesia sendiri yang menjual Indosat kepada Temasek. Pemerintah Indonesia pula yang membuka peluang investor asing menanam modal di Indonesia, sehingga (salah satunya) Temasek menanam modalnya membangun Telkomsel. Dan kini, malah Pemerintah Indonesia yang memerangi Temasek lewat jalur hukum dengan tuduhan Temasek melakukan monopoli. Pembeli malah yang disalahkan. Seharusnya penjualnya dong yang disalahkan.
Dari awal pemerintah Indonesia sudah diprotes rakyatnya untuk tidak menjual Indosat kepada pihak asing. Sejak awal pula pemerintah Indonesia diperingatkan akan rugi jika menjual perusahaan-perusahaan semacam Indosat kepada pihak asing. Nah, baru sekarang akhirnya pemerintah merasa rugi. Tapi kok yang disalahkan malah pembelinya, bahkan sang pembeli dipaksa untuk mengembalikan barang yang dia sudah beli. Itu adalah praktek mafia. Pemerintah Indonesia kita ini adalah pemerintahan mafia?? Kalau begini cara pemerintah memperlakukan para investor asing, dijamin tidak akan ada investor asing yang mau menanam modalnya lagi di Indonesia.
Hei Pemerintah, nasi sudah jadi bubur, daripada kau sibuk mencari cara mengembalikan bubur menjadi nasi, mendingan energinya digunakan untuk membuat nasi baru yang lebih baik lagi. Jangalah menambah malu dengan memerangi investor asing yang kau ajak masuk ke negeri ini. Penjualan Indosat ke Temasek adalah kesalahan besar Pemerintah sejak awal, akui itu. Mau menang perang terhadap Temasek? Caranya adalah berantas habis korupsi - suatu sifat amoral, biadab - yang sudah mendarah daging di sebagian besar pejabat dan pegawaimu, termasuk juga rakyat Indonesia lain yang korup. Sekarang saatnya membangun bangsa ini dengan cara dan arah yang benar, bukan dengan jalan mafia.
Posted in Business | 2 Comments »
November 2, 2007 by Ananda Putra
http://code.google.com/p/blueprintcss
Blueprint CSS is a great css framework.
Posted in Software Development | No Comments »
September 11, 2007 by Ananda Putra
Ironis. Itulah kata yang terlintas dalam benakku setiap kali melihat pengemis atau anak-anak jalanan berkeliaran di halaman suatu mesjid megah. Padahal mesjid-mesjid itu memiliki uang kas yang cukup banyak. Mesjid setingkat RW saja bisa punya uang kas dengan saldo puluhan juta rupiah apalagi mesjid-mesjid raya nan megah, bisa punya saldo kas hingga ratusan juta rupiah yang berasal dari infak jama’ah bahkan hibah dari pemerintah maupun dari luar negeri. Padahal pengeluaran untuk operasional (biaya kebersihan, air, listrik, honor pekerja, dll) tidak seberapa dibandingkan infak yang masuk. Continue Reading »
Posted in Islam | 1 Comment »