Kenapa judul di atas tidak saya lanjutkan? Karena atas keterbatasan ilmu pengetahuan saya di dalam Islam, saya belum berani menuding. Berikut ini adalah fakta-fakta yang saya temukan di lingkungan sekitar saya.
Di Indonesia ini terdapat banyak kelompok-kelompok masyarakat Islam. Mereka berkelompok berdasarkan kesamaan paham antar sesama anggotanya terhadap Islam. Masing-masing kelompok biasanya punya pandangan berbeda terhadap Islam. Hal ini disebabkan karena hukum-hukum Islam itu sendiri terbuka untuk diinterpretasikan oleh akal manusia, khususnya hukum-hukum yang bersifat general (umum). Namun Islam sendiri telah memberi rambu-rambu atas penggunaan akal ini. Segala interpretasi umat Islam harus berdasarkan dalil-dalil Al Qur’an dan Al Hadits dan tidak pula bertentangan dengan dalil-dalil yang lebih kuat dan lebih jelas.
Saya sendiri tidak pernah menjadi anggota ataupun simpatisan suatu kelompok masyarakat Islam. Sejak awal saya tidak memusingkan keberadaan kelompok-kelompok tersebut. Karena saya selalu memandang dengan timbangan kebenaran dasar Islam yang mereka usung. Dari kelompok mana pun ia berasal selama memegang teguh dasar Islam dengan benar maka saya anggap ia saudara, namun yang sudah jelas-jelas sesat maka saya menjauhi diri dari mereka. Namun kini saya menemukan sebuah (atau mungkin lebih dari sebuah) kelompok masyarakat Islam di Indonesia yang menurut saya mereka berada di grey area.
Kelompok tersebut menjalankan kehidupan Islam memang berdasarkan Al Qur’an dan Al Hadits. Kegiatan pengajian mereka pun saya acungi jempol karena mereka adalah satu-satunya kelompok yang cukup besar dan teroganisir dengan baik di Indonesia yang melakukan pengajian Al Qur’an dan Al Hadits secara mendalam (ada juga kelompok lain yang melakukan hal yang sama, tapi dari segi kuantitas jama’ah kalah dari kelompok yang saya maksud). Namun saya (dan mungkin juga Anda) menemukan beberapa kejanggalan pada doktrin-doktrin mereka yang akhirnya mengakibatkan beberapa sikap mereka yang melenceng dan tidak mencerminkan pribadi Islam. Apa gunanya kuantitas jika tidak berkualitas?
Ada dua doktrin yang saya “kagumi” dari kaca mata keorganisasian. Karena dengan dua doktrin itu mereka dapat mengikat erat anggota yang telah bergabung dengan mereka. Hanya anggota-anggota yang mempunyai pikiran super kritis dan mental titanium saja yang bisa “mengundurkan diri” dari organisasi tersebut. Doktrin yang hebat. Tapi kekaguman saya terhadap kehebatan doktrin-doktrin itu sirna ketika saya mendeteksi adanya penggunaan dalil-dalil yang salah untuk memperkuat doktrin-doktrin tersebut.
Kedua doktrin tersebut adalah sebagai berikut:
- Ilmu hanya sah diperoleh dengan cara manqul
- Setiap orang Islam wajib bai’at kepada seorang pemimpim
Secara singkat, manqul adalah proses pemindahan ilmu dari guru ke murid. Manqul dalam konteks ilmu Islam adalah proses pemindahan (periwayatan) nash-nash Al Qur’an dan Al Hadits dari guru ke murid yang urutannya perawinya (isnad) menyambung (mutthasil) hingga kepada Rasulullah SAW. Seperti telah kita ketahui bersama bahwa Al Qur’an dan Al Hadits adalah sumber hukum utama bagi Islam. Semua ibadah dan larangan harus berdasarkan padanya. Dengan doktrin manqul ini, kelompok tersebut menekankan bahwa seluruh ibadah di dalam Islam tidak sah jika ilmunya tidak diperoleh dengan cara manqul dan di Indonesia hanya kelompok mereka yang ilmu Islamnya manqul (ilmu yang tidak manqul dianggap tidak murni karena urutan perawinya dianggap terputus dari Rasulullah SAW).
Bagi masyarakat/anggota yang haus ilmu Islam akan memandang manqul ini sebagai sesuatu yang sempurna apalagi tatkala dihadirkan beberapa dalil yang menunjukkan wajibnya manqul tersebut kepada mereka (insya Allah saya akan bahas mengenai dalil-dalil itu secara detil pada kesempatan yang lain). Mereka akan menganggap bahwa ilmu yang mereka peroleh dari guru-guru mereka di kelompok tersebut adalah yang paling benar karena menyambung hingga Nabi Muhammad SAW. Akhirnya mereka akan merasa senang hati dan bersemangat menimba ilmu dari kelompok tersebut.
Kemudian doktrin tentang bai’at, secara singkat bai’at adalah janji setia sesesorang terhadap pemimpin. Di dalam Islam kepemimpinan merupakan suatu hal yang sangat penting, dan seseorang yang telah melakukan bai’at (janji setia) harus selalu taat kepada seluruh perintah pemimpin yang ia bai’at selama tidak mengingkari Allah SWT. Banyak sekali dalil-dalil hukum Islam yang menjelaskan hal kepemimpinan ini.
Kelompok-kelompok yang saya maksud di atas membuat doktrin bai’at sebagai sesuatu yang wajib dalam kehidupan umat Islam saat sekarang. Mereka memprovokasi anggota mereka dengan mengatakan bahwa semua umat Islam wajib bai’at kepada seorang pemimpin (amir) agar keIslamannya diakui di akhirat nanti. Dan menurut mereka amir merekalah yang paling berhak menjadi pemimpin karena memiliki ilmu Islam yang manqul.
Setiap anggota yang keluar dari kelompok (mengingkari bai’at) akan dianggap sebagai orang murtad alias keluar dari Islam. Kenapa? Karena mereka menganggap kelompok merekalah yang murni Islam (karena ilmu Islam mereka yang manqul, yang sah, yang menyambung hingga Nabi Muhammad SAW).
Kejanggalan
Dalam praktek kehidupan anggota kelompok tersebut, saya menemukan beberapa kejanggalan. Mereka sangat menjunjung tinggi ilmu yang manqul, yang salah satu syaratnya adalah urutan guru (isnad) yang menyambung hingga Rasulullah SAW, namun pada prakteknya sangat banyak anggota mereka tidak mengetahui urutan-urutan guru mereka. Bahkan banyak di antar mereka yang tidak mengetahui urutan sanad pemimpin/pendiri kelompok mereka. Pada pengajian-pengajian mereka juga tidak menerapkan sepenuhnya sistem periwayatan hadits, mereka masih merujuk kitab-kitab Hadits yang disusun oleh ulama-ulama besar yang telah mendokumentasikan Hadits seperti kitab Shahih Bukhari, kitab Shahih Muslim, kitab Sunan Abu Dawud, Musna Ahmad, dan lain-lain.
Bukankah itu sebuah kejanggalan? Karena bila manqul itu benar-benar diterapkan tentu tidak ada lagi penyebutan-penyebutan “hadits riwayat Bukhari”, atau “hadits riwayat Abu Dawud”, dan lain-lain yang sejenisnya. Dengan manqul guru penyampai hadits harus menyebutkan/menyampaikan dari siapa ia memperoleh hadits tersebut sebelumnya. Karena bila ia menyebut langsung dari Bukhari, apakah ia pernah bertemu dengan Imam Bukhari?
Jadi pada akhirnya, walaupun mereka mengaku menggunakan cara manqul untuk mendapatkan ilmu Al Quran dan Al Hadits, pada prakteknya cara pengajian mereka sama saja dengan cara pengajian di kelompok masyarakat Islam lain yang mereka anggap tidak menerapkan manqul. Singkatnya, teori tidak sama dengan praktek.
Kejanggalan-kejanggalan lain akan lebih terlihat jika kita mendalami satu persatu dalil yang mereka jadikan hujjah terhadap pendapat mereka yang mewajibkan manqul. Tapi tidak kita bahas sekarang, isnya Allah saya ada waktu untuk mengemukakannya kemudian.
Pada doktrin bai’at juga terdapat banyak kejanggalan. Salah satunya adalah amir atau pemimpin mereka tidak dikenal oleh masyarakat. Mereka juga menggunakan dalil-dalil dari Al Qur’an dan Al Hadits dalam mendudukkan pemimpin mereka, tapi lagi-lagi pada prakteknya tidak sesuai. Ambil contoh, Abu Bakar ra. adalah seorang khalifah yang sangat dikenal oleh masyarakat Islam maupun non Islam pada masanya. Sedangkan pemimpin kelompok tersebut tidak dikenal masyarakat (saya sendiri belum pernah melihat wajahnya) tapi mereka berani menganggap pemimpin mereka itulah pemimpin umat Islam yang sah di Indonesia (jika ada kepemimpinan yang lain setelah ada kepemimpinan mereka maka yang terakhir dianggap tidak sah). Proses pemilihannya pun tidak jelas. Wallahu A’lam.
Demikian tulisan saya yang “singkat” ini. Semoga menambah wawasan khususnya bagi saya dan umumnya bagi pembaca sekalian. Insya Allah akan disambung dengan pembahasan dalil-dalilnya secara detil.
yang menjadi pertanyaan kemudian: ajaran apakah itu?

iya neh,ajaran apa seh itu?
LDII ya…..
ass. saya bingung mencari Islam yg benar? wassalamu’alaikum
islam itu benar lalu untuk apa ajaran itu?
ILAM ITU MEMBUAT AKU PUSING DENGAN DOKTRIN2 YNG ANEH2…
Kok sekarang banyak sekali orang yg mengklaim dirinya Islam tapi kok aneh2
@Ananda Putra.
ya ampun … pelajari dulu alirannya. Belajar sama orang yg tepat. Bukan sama orang yang “tahu”.
@yang lain
mana yg sesat ? mereka ? atau bahkan anda sendiri ?
kita ini makhluk lemah yang hanya bisa mohon perlindungan kepada Allah dari orang-orang yang lalai dari masalalu. mohonlah kepadaNya supaya kita ditunjukki kepada jalan yang lurus. yaitu jalannya orang-orang yang tidak sesat karena tidak pernah baca atau tidak mau tahu kebenaran, dan bukan pula orang yang dimurkai, yaitu orang yang sudah tahu kebenaran tetapi tidak mau mengikuti hanya karena gak redho kalau orang lain lebih baik dari kita. yang pasti, pemahaman islam yang lurus itu sudah tersamarkan sejak para ahlul bait dan orang-orang saleh yang tulen dibunuhi. bahkan, sejak nabi meninggal dunia, ada saja oknum yang sok tahu–yang akibatnya membuat berbagai aliran-aliran aneh di jaman sekarang ini. jangan bingung sobat!! antara yang benar dan yang salah sudah dibedakan dengan sejelas-jelasnya oleh Allah swt. bukankah Allah telah menurunkan Al Furqan?!
perbedaan yang besar antara yang benar dan salah adalah dari akhlaknya yang baik dan bijak. karena Rasulullah tidak diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak umat manusia. jangan lihat perkumpulannya, tetapi salah satu oknumnya saja. karena biasanya salah satu oknum yang lurus akan bisa mempengaruhi oknum lainnya. biasanya yang lurus itu tidak mengharapkan apa-apa dari kita kecuali keselamatan kita dalam memahami agama. jika perlu keras, dia akan keras! tetapi kekerasannya senantiasa disertai argumen yang kuat supaya kita bisa menerima sikap galaknya. dan satu tanda lagi, ia tidak pernah bersemangat untuk menyusahkan kita. mudah-mudahan kedatangan orang itu tidak lama lagi. sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.
Apapun comment rekan-rekan semua, Allah telah memerintahkan kita untuk mencari kebenaran, bukan mengungkap dan mencari kesalahan orang lain dan bahkan untuk membanding-bandingkannya,, yang aku pikir malah pernyataan seperti ini yang membuat mental kita yang awam malah menjadi takut untuk mencari kebenaran. Karena insya Allah, Allah akan menunjukkan kita jalan yang benar jika kita benar2 ingin mencari jalan yang benar dan di ridhoi oleh Allah SWT.
buat saudaraku semua…
realita umat islam sekarang yang sangat memprihatinkan memang membuat kita atau kebanyakan manusia bingung atau malah phobi terhadap islam itu sendiri. ada yang kerjanya ngebom dimana-mana (teroris yang ngaku islam) akhirnya orang menuduh islam itu kejam, ada yang kerjanya keliling dari masjid-kemasjid bawa kompor dalam kondisi meninggalkan tanggung jawab mereka (kerja dan anak istri) padahal dalam kitab yang merka pakai “fadhilah amal” banyak terdapat hadis paslu dan hadis lemah yang tidak bersumber dari rasulullah hanya buatan-buatan orng yg tidak bertanggung jawab, ada juga kelompok yang sepeti di sebutjan oleh penulis di blog ini mereka mudah sekali mengkafirkan kaum muslimin diluar kelompok mereka dan yang tidak mau/mengakui pimpinan mereka ada juga yang liberal yang menyamakan antara islam dan agama-agama lain padahal Allah sendiri mengingkari hal itu (agama yang paling mulia disisi allah adalah islam)dan masih banyak lagi yang gak mungkin disebutin semuanya disini.
Perbedaan dan perpecahan ini semua terjadi karena masing-masing kelompok dan aliran-alirasn sempalan dalam islam tersebut mengikuti hawanafsu dan akal-akal pimpinan ataupun hawanafsu dan akal-akaldirimereka sendiri pdahal islam ini hanya satu da rasulullah telah mengajarkan islam ini dengan sejelas-jelasnya dengan bahasa yag mudah dimengerti dan yang tidak bermakna ganda yang bisa ditarik sesuai kemauan kita. kita tinggal mengambil ajaran-ajaran rasulullah itu sebagaimana yang beliau bawa dengan tidak menambahi dan tidak pula mengurangi (bukan berarti rasulullah berkendara dengan unta maka kita juga harus menggunakan unta untuk masalah ini sudah dijelaskan oleh rasulullah sendiri dan para ulama telah membahasnya) tentunya berdasar kepada Al-qur’an dan As-Sunnah trus jangan kita pahami dengan akal-akal dan hawanafsu masing-masing karena dengan cara ini kita membuka celah baru perpecahan bayangkan saja misalnya ada 5 orang masing-masing mengatakan berdasar pada al-qur’an dan as-sunnah trus mereka memahami dengan akal-akal merka masing2 tentunya ada 5 pendapat berbeda apalagi kalo dah di tunggangi kepentingan hawanafsu dan kepentingan. jadi kita harus memahaminya sebagai mana pemahaman para sahabat rasulullah karena mereka belajar langsung dan dididik langsung oleh rasulullah dan allah memilih mereka sebagai manusia terbaik yang menemani rasulullah dan kalau kita mau jujur kita bisa melihat dalam al-qur’an banyak sekali pujian allah terhadap mereka dan jaminan allah terhadap mereka. untuk mengetahui pemahaman para sahabat kita bisa merujuk pada kitab-kitab tulisan murid-murid mereka baik dari tabi’in, tabi’ut tabiin atau ulama yang mengikuti mereka dengan baik setelah mereka. kalau ada yang salah tolong saya diperingatkn agar saya bisa membenahi diri. wallahu a’lam
kutunggu tanggapan teman-teman di emailku: abu_muhammad_umar@yahoo.com
sukses buat pemilik blog ini
Nabi bersabda suatu hari umatku akan berdebat tentang islam
islam sekarang ini seperti makanan yang di hidangkan dimeja makan dengan dikelilingi orang2 yang akan memakannya.
banyak orang2 musrik yang menginginkan perpecahan islam diantaranya meraka mempelajari islam dan membuat penyelewengan2 dengan doktrin2 yang akan menyesatkan umat islam.
Lebih 14 abad silam Nabi Muhammad Saw telah bersabda “Yahudi telah sengketa ke dalam 71 aliran, Nasrani cerai menjadi 72 kelompok, dan umatku pecah 73 kelompok, semua di neraka kecuali satu…”. Hampir semua kitab-kitab Hadist enam (kutub sittah) meriwayatkan sabda Nabi ini, meskipun dengan redaksi yang sedikit berbeda, namun tidak begitu signifikan. Dari Hadist itu manusia seakan punya dua alternatif, tersesat dan berpetunjuk. Bila sesat maka di neraka dan bila berpetunjuk maka di surga. Dikotomi ini sangat arogan apabila yang melakukan adalah seorang fanatikus sebuah sekte. Seorang dengan mudah mendata aliran-aliran Islam beserta anggotanya lalu memasukkan selain alirannya dalam deretan aliran sesat, dengan kata lain seorang bisa men’sensus’ penduduk surga dan neraka jauh lebih awal, yaitu ketika masih di dunia yang akseleratif.
Sejarah munculnya sekte dalam Islam dimulai pasca terbunuhnya Utsman Ibn Affan, stabilitas pemerintahan waktu itu terguncang hebat, Ali Ibn Abi Thalib dengan sangat terpaksa menerima baiat (pengangkatan) kaum muslimin sebagai khalifah, akan tetapi Muawiyah Ibn Abi Sufyan dan pendukungnya menolak konstitusi itu sebelum pembunuh Utsman dan alirannya dihabisi dan ketegangan pun tak bisa dihindari. Perseteruan itu akhirnya melahirkan tiga sekte besar Islam (Syiah, Sunni, Khawarij). Pada mulanya kelahiran ketiga aliran ini lebih dipicu oleh konflik politik dari pada perbedaan ideologi, sebab sebelumnya ideologi mereka sama. Waktu terus berputar, ketiga aliran itu lalu menelorkan sekte-sekte pecahan yang sulit dideteksi keberadaanya, karena kebanyakan sekte tersebut hanyalah aliran yang punya nama tapi tidak punya penganut dan identitas ideologis yang jelas.
Beberapa ulama` mencoba untuk menghitung dan mendata sekte-sekte Islam itu kemudian menjumlahnya menjadi 73, tidak lebih dan tidak kurang, mereka bermaksud menyesuaikan jumlah sekte Islam dengan kata-kata Nabi dalam Hadits di atas. Beragam apapun warna-warni aliran dalam tubuh Islam jumlahnya harus tetap 73 sekte, mereka memeras pikiran demi mencari perbedaan yang sejatinya tidak berbeda dan kesamaan yang sebenarnya sangat berbeda. Akan tetapi, manusia adalah makhluk terbatas yang tidak bisa melampaui dunianya, artinya mereka hanya bisa menjumlah sekte-sekte yang telah muncul sampai waktu kehidupannya, mereka alpa, bahwa seiring perjalanan waktu jumlah sekte Islam akan sangat berubah, berkurang atau bertambah. Mereka tidak membuka kemungkinan tenggelamnya satu sekte dan munculnya sekte baru, mereka seakan lupa bahwa fenomena pertumbuhan aliran dalam Islam adalah kenyataan yang tidak bisa dinafikan oleh siapapun dengan cara apapun.
Sederet ulama` yang berusa membatasi sekte-sekte Islam dalam jumlah 73 antara lain misalnya Abdul Qahir Al Bagdadiy (W 429 H) dalam kitabnya “Al Farq Baina Al Firaq” dalam kitabnya itu Abdul Qahir mendaftar sekte-sekte Islam yang telah ada dan sedang ada pada waktunya saja, beliau membagi sekte Khawarij ke dalam 20 aliran, sedangkan Ibnu Jawziy (W 597 H), murid Ibn Taymiyah dalam kitabnya “Talbis Iblis” membagi Khawarij menjadi 12 kelompok. Ulama` lain misalnya As Sahrastaniy dengan “Al Milal wa Nihal”nya yang sangat masyhur itu, juga melakukan usaha yang sama, dan lain sebagainya. Mereka lupa bahwa dengan masih dibukanya pintu berijtihad serta semangat membawa Islam untuk relevan sepanjang zaman adalah faktor yang memupuk tumbuh-kembangnya aliran dan pola pikir dalam Islam oleh generasi mendatang. Usaha mereka untuk membatasi sekte-sekte Islam dalam jumlah 73 saja, lalu klain sesat mereka terhadap aliran atau kelompok yang bukan kelompoknya adalah sama saja dengan penjaringan para calon penduduk neraka.
Namun, adalah sangat disayangkan apabila usaha hitung-menghitung sekte-sekte sesat dan kafir ini ternyata digemari dan dilakukan dari masa ke masa bahkan sampai sekarang. Satu hal yang perlu diingat adalah bahwa perjalanan sejarah umat Islam belum selesai dan akan terus berjalan, sehingga mungkin sekali satu sekte Islam sirna ditelan masa, namun akan ada sekte-sekte lain yang baru dan jumlahnya lebih banyak. Kebebasan berfikir, berijtihad, berkelompok tidak bisa dicegah begitu saja dengan melakukan ’sensus’ aliran sesat, sebab perkembangan dan perubahan itu adalah kelaziman umat Islam sebagai manusia yang menghargai akal serta kemampuan daya pikirnya, manusia yang diperintahkan Tuhannya menggunakan akal pikirannya. Dan inilah pluralitas yang harus kita sadari dan kita terima.
Reveiw atas Hadist di atas saya kira perlu, apakah benar angka 73 dalam Hadits itu dimaksudkan Nabi sebagai jumlah yang tidak boleh lebih atau kurang (?). Kalau kita membaca Alquran dan mengenal bahasa dan satra Arab, maka kita akan mendapati beberapa kalimat bilangan (`adad) yang tidak dimaksudkan menunjukkan jumlah angka tertentu, akan tetapi menunjukkan jumlah yang mungkin kurang atau lebih dari angka yang disebut. Misalnya kalimat sab`atu abhur (tujuh lautan) dalam QS. Luqman 27, sab`ina marrah (tujuh puluh kali) dalam QS. At Taubah 8 dll. Dalam Hadits misalnya Hadits “Al quran diturunkan dengan tujuh huruf” dll. Angka 7 dan 70 dalam Alquran dan Hadits di atas bukanlah bilangan yang dimaksudkan menunjukkan jumlah 7 atau 70 saja, akan tetapi untuk menunjukkan jumlah yang besar atau banyak, bisa 6, 7, 8, 9 atau ,60 70, 80 dst.
Nah, membatasi jumlah sekte-sekte Islam yang muncul sejak tahun 40 Hijriyah sampai zaman sekarang -dan yang akan datang- hanya kedalam 73 sekte saja -tidak lebih dan tidak kurang -adalah merupakan usaha atau pekerjaan yang sia-sia, kalau bukan pekerjaan yang salah. Sebanyak apapun sekte dalam Islam, toh bilangan dalam Hadits di atas sangat mungkin tidak dimaksudkan Nabi untuk membatasi jumlah sekte hanya dalam 73 saja, sekte Islam bisa kurang dari 73 dan bisa juga lebih.
Kita juga perlu melihat Hadits di atas dari dimensi kaca mata dakwah. Dalam dakwah Islam, umat Nabi Muhammad Saw. terbagi menjadi dua; pertama, ummat ijabah (kaum beriman dan sudah masuk Islam) dan kedua, ummat dakwah (belum beriman dan belum masuk Islam). Kedua umat ini sama-sama disebut dan tergolong umat Muhammad. Jadi apabila kita memahami 73 sekte dalam Hadits di atas memakai kaca mata dakwah ini, maka Islam dengan segenap aliran, sekte, kelompoknya adalah satu agama atau agama yang satu. Umat Islam di sini -lengkap dengan segenap sekte, aliran, pola pikir yang dianutnya- adalah umat Muhammad Saw yang dihitung satu, Muslimin (ummah ijabah) adalah satu umat (ummah wâshidah) dari 73 aliran umat Muhammad Saw, sementara yang lain adalah yang belum memeluk Islam (ummah dakwah). Umat Islam adalah satu kesatuan sejauh mereka tetap dalam bendera dua kalimat syahadat.
Kesadaran bahwa umat Islam adalah satu kesatuan ini sangat penting untuk dipahami, terutama zaman sekarang, di mana pada saat umat Islam ingin menanamkan pluralisme dalam beragama, ingin merangkul semua agama dengan semangat lintas agama, namun justru stabilitas internal dalam tubuh Islam sendiri terkoyak-koyak seakan tak bisa diredam lagi, antar umat Islam saling mengharamkan sembelihannya dan menghalalkannya disembelih. Tentu ini adalah kondisi yang sangat timpang, ibarat tukang batu yang ingin merehabilitasi bagian luar akan tetapi bagian dalamnya keropos tak karuan.
Hadits di atas diriwayatkan dari Nabi oleh Abu Hurairah, Ibnu Amar, Anas Bin Malik, Ibn Amr, dan Muawiyah Bin Abi Sufyan, hampir semua kitab hadits enam menyebutkan Hadist itu. Hadits itu juga telah lulus seleksi para pakar Ilmu Hadits dengan ilm jarh wa ta`dil’ nya sebagai sebuah Hadits yang sahih (diterima). Sahih adalah kedudukan hadits yang mencukupi untuk dijadikan sebagai sumber hukum dalam masalah-masalah selain Aqidah (Syariat, Akhlak, Sejarah dll.).
Namun yang perlu diingat adalah, Hadist ini tidak Hadist mutawatir yang sah menjadi
rujukan dalam masalah Aqidah. Bahkan, Imam Abu Muhammad Ibn Hazm dalam Al Fashl Fil Milal Wal Ahwa` wan Nihal menilai Hadits tersebut sebagai Hadits yang tidak sahih, artinya hadits itu tidak bisa diterima keabsahannya sebagai perkataan Nabi dan apalagi sebagai sumber masalah-masalah keyakinan seperti masalah sesat dan tidaknya sebuah aliran Islam, berhak dan tidak berhak masuk surga dst.
Sebenarnya kedudukan hadist sahih dalam masalah-masalah Syariat pun masih dipertentangkan. Dan apalagi menurut kelompok yang mempertanyakan keabsahan sunnah
atau hadist secara keseluruhan sebagai sumber kebenaran yang absolut. Kesombongan sekte yang menuduh sesat kelompok lain, lalu mendaftarnya dalam jumlah penduduk neraka serta keengganan mereka untuk berdialog bersama, sudah sepatutnya tidak diwarisi. Biarkan sejarah sekte-sekte yang saling menyesatkan menjadi penyesalan orang-orang sekarang, jangan sampai penyesalan itu terjadi lagi, karena sesengit apapun kita mengklaim sesat sebuah aliran Islam, sejarah tetap akan mencatat sekte itu sebagai sekte Islam.
Dan yang lebih penting disadari adalah, kesalahan memahami Hadist di atas lalu memastikan bahwa kelompoknya sebagai satu-satunya aliran yang berpetunjuk dan berhak masuk surga Allah Swt, Tuhan seluruh umat Islam. Bagi kelompok yang berpola pikir lintas agama dan ingin merangkul semuanya ke dalam kesatuan bangsa yang damai dan sejahtera, perlu kiranya kembali merabah dan berkaca di depan cermin multidimensi seraya bertanya sudahkah saya selesai memunguti lalu menyusun serpihan pecahan sekte-sekte Islam yang tersebar berantakan dalam tubuh kalian sendiri, sudahkah kalian menemukan kesepakatan bersama yang diterima oleh segala pihak secara islami dan demokratis. Jangan-jangan kalian melebur dengan agama lain tanpa bisa menjaga kesatuan internal dalam tubuh umat Islam sendiri?!.
*Penulis adalah santri “sak peguron” Gus Dur dari Pon Pes Langitan Widang Tuban Jatim, sekarang menjadi Santri Universitas Al Azhar Kairo Mesir.
Mohon maaf, faslitas komentar pada artikel ini saya tutup.