Ironis. Itulah kata yang terlintas dalam benakku setiap kali melihat pengemis atau anak-anak jalanan berkeliaran di halaman suatu mesjid megah. Padahal mesjid-mesjid itu memiliki uang kas yang cukup banyak. Mesjid setingkat RW saja bisa punya uang kas dengan saldo puluhan juta rupiah apalagi mesjid-mesjid raya nan megah, bisa punya saldo kas hingga ratusan juta rupiah yang berasal dari infak jama’ah bahkan hibah dari pemerintah maupun dari luar negeri. Padahal pengeluaran untuk operasional (biaya kebersihan, air, listrik, honor pekerja, dll) tidak seberapa dibandingkan infak yang masuk.
Lantas kenapa masih ada pengemis dan anak jalanan yang berkeliaran di halaman mesjid-mesjid itu? Okelah solusi persoalan ini tidak sesederhana hanya dengan memberikan uang atau kebutuhan primer lain setiap hari atau perbulan kepada para fakir miskin tersebut. Tapi bagi mesjid-mesjid megah yang memiliki saldo kas yang cukup banyak, bukankah mereka dapat membentuk tim khusus untuk membina pengemis dan anak jalanan tsb? Tidak ada manfaatnya uang saldo kas itu disimpan. Uang itu akan sangat bermafaat jika digunakan untuk merawat para pengemis dan anak jalanan tersebut.
Memang tulisan ini tidak membahas secara mendalam mengenai solusi nyata, karena ada sangat banyak solusi nyata yang bisa diterapkan. Kita punya banyak cendikiawan, saya yakin mereka punya segudang solusi. Namun setidaknya solusi yang paling sederhana bisa diterapkan oleh mesjid-mesjid tersebut. Misalnya dengan membagikan zakat kepada para pengemis tersebut rutin tiap bulan.
Kalau mau lebih bisa membuatkan tempat penampungan. Di sana mereka diberi makanan bergizi, pakaian yang layak, pengobatan, dan pendidikan. Bagi yang sudah tua dirawat dengan memberi makanan dan pengobatan secukupnya. Bagi yang masih muda dan bertenaga bisa dipekerjakan untuk merawat lingkungan mesjid atau tempat lain. Bagi yang muda tapi punya kecerdasan dan anak-anak diberi pendidikan agar mereka kelak bisa bekerja dengan layak di luar mesjid dan kembali ke masyarakat dengan tingkat kesejahteraan yang baik.
Lebih bagus lagi jika mesjid-mesjid di suatu cakupan wilayah (misalnya kecamatan, kota, kabupaten, propinsi, dll) bersatu padu membentuk sebuah unit pelayanan fakir miskin. Dana tidak akan menjadi masalah, banyak masyarakat yang akan memberikan infak/sedekah/zakatnya untuk unit tsb. Bahkan saya yakin para pengusaha atau orang kaya dari luar negeri pun akan beramal untuk hal ini. Yang penting adalah sumber daya manusia yang mengelola dana-dana umat tsb. Orang-orang tersbut haruslah jujur dan amanah, agar masyarakat tidak ragu-ragu mengeluarkan infak/sedekah/zakat.
Kualitas orang-orang yang mengelola dana umat tersebutlah yang menjadi masalah utama kenapa pengemis, anak jalanan, fakir miskin masih banyak di negeri ini. Kembali kata ironis muncul, mengapa kualitas mereka yang megelola dana-dana tersebut buruk? Padahal mereka beragama Islam. Ini memang rentetan masalah yang kompleks.
Kita bisa memecahkan masalah ini dengan mulai memperbaiki diri kita sendiri. Klise memang pernyataan tsb. Tapi coba kita renungkan, betapapun klisenya kalimat itu jika kita lakukan hasilnya sangat nyata bermanfaat.
Ini hanyalah sekelumit ulasan mengenai para pengemis dan anak jalanan yang sering saya temui di mesjid-mesjid besar. Miris hati ini ketika melihat mereka. Kok bisa mesjid yang berlantai marmer, dinding marmer, kubah besar, menara tinggi, karpet sajadah dua lapis, ruangan berpendingin, banyak ulama yang membagikan ilmu, dan memiliki taman-taman indah masih ada pengemis dan anak jalanan yang berkeliaran meminta-minta??
yui bro ,orang indonesia masih menghambakan pada barang seperti bangunan ,coba duitnya di pakai untuk penyebaran dakwah , pendidikan islamin menyantuni kaum fakir dalam bentuk peminjaman dana buat usaha , makmur tho