Mereka yang mendukung beralasan bahwa “Sensor membendung kreatifitas”. Ketika ada yang membantah bahwa sensor masih dibutuhkan untuk melindungi penonton dari film-film yang mengandung sadisme dan seksualitas, mereka pun lantas berdalih dengan mengatakan cukup dirikan lembaga klasifikasi film untuk menentukan kategori penonton film-film tersebut.
Di sini saya hanya ingin menyampaikan, insan-insan film yang menginginkan LFS dibubarkan itu lupa bahwa film bukan hanya sebuah media hiburan; bukan hanya sebuah media seni; bukan hanya sebuah wadah penyaluran kreatifitas; tapi film juga merupakan media pendidikan, terlebih lagi film juga merupakan MEDIA PROPAGANDA!
Bayangkan jika tidak ada LSF, bangsa ini akan dapat diberondong propaganda-propaganda buruk yang menghancurkan negeri ini. Mudah-mudahan insan-insan film itu tidak lupa dengan hal ini.
Jika mereka beralasan sensor membendung kreatifitas, bukankah itu merupakan sebuah tantangan untuk membuat suatu kreatifitas yang lebih baik yang dapat diterima semua pihak. Kreatifitas yang baik itu adalah kreatifitas yang dapat dinikmati dan bermanfaat bagi orang lain, bukan?
saya tgl 6 feb 08 kemarin ikut hadir di mahkamah konstitusi yang membahas tentang pembubaran Lembaga Sensor Film. Kebetulan sekali ketika saya hadir LSF sedang memutar adegan film buatan dalam negri yang mereka potong yang antara lain film GIE, DETIK TERAKHIR, Jakarta Undercover, dan dua film lain film Indonesia juga yang saya lupa judulnya, serta kalau tidak salah dua film asing KOMENTAR saya WOW……………..ternyata sineas Indonesia sudah “PANDAI” membuat film PORNO. Awalnya saya bukan lah termasuk orang yang pro ataupun kontra akan keberadaan LSF. Jadi ketika beberapa teman cerita dengan berapi2 baik yang pro atau yang kontra saya masih berfikir ah..gitu aja kok pusing duduk aja bareng masing-masing maunya gimana cari jalan tengah. Dan………setelah saya datang dan lihat apa yang di potong saya terkejut dan menangis, menangis karena apa? karena saya punya dua anak. Saya Ingat beberapa bulan yang lalu anak saya minta izin nonton bioskop karena temannya ulang tahun dan dia nonton karena di traktir, saya tanya film apa terowongan CASABLANCA yang saya tahu dari iklan yang ada di media itu film setan oke kata saya pada anak saya karena tdk pernah terfikir bahwa ada adegan “setan” yang lain dalam film itu. Setelah pulang anak saya cerita saya patut bersyukur anak saya masih mau cerita . Dan ceritanya aku nyesel nonton film itu, aku jijik masa ada adegan perempuan yang payudaranya di pegang2 terkejutlah saya dan mengalirlah cerita dari anak saya kesimpulannya dia jijik dan tidak mau lagi di ingatkan tentang film itu anak saya 12 tahun ketika itu kelas 1 SMP. Dan jangan berharap penjaga Bioskop akan menanyakan KTP meskipun sudah jelas film itu untuk 17 tahun ke atas saya paham ujung2nya DUIT.
Kembali ke atas. Yang membuat saya miris di sidang kemarin teman2 yang menuntut LSf lagi2 yang di tonjolkan adalah sisi kemanusiaan dari beberapa film dengan alasan ingin mengungkapkan sejarah oke saya setuju tapi kenapa mereka tidak membahas adegan yang jelas porno yang di potong oleh LSF halo halo……….. anda-anda yang mengaku ingin mencerdaskan bangsa , kenapa tidak anda komentari dan jelaskan adegan tersebut JELASKAN TOLONG JELASKAN mengapa anda buat adegan yang sangat detil tentang persetubuhan antara lawan jenis dan sejenis, adegan sodomi terhadap seorang waria, adegan seks bersama ??????? jangan katakan itu FENOMENA karena yang kalian katakan fenomena setelah kalian buatkan film itu jadi budaya. Berapa banyak remaja putri yang menjual diri mencontoh film Virgin? jangan katakan itu fenomena. Menyedihkan sekali ibu Citra Buchori yang memberi kesaksian kemarin mewakili orang tua maaf ibu orang tua yang mana yang ibu wakili ? ibu bilang sering mengajak anak ibu nonton untuk akhirnya mendiskusikan adegan dan isi cerita film termasuk film berbagi suami, apa pentingnya ibu mengajak anak ibu nonton film berbagi suami kalau hanya ingin mengajarkan anak ibu tentang poligami, bukankah di infotainment atau media lain sudah banyak kasus tentang poligami bahkan kasus dai kondang yang beritanya meluber sampai keman-mana tidak cukup di jadikan pembelajaran, salut untuk ibu saya ingin tahu apakah ibu juga memberi izin anak ibu melihat adegan mesum yang di potong LSF jika ya WOW alangkah “hebatnya” ibu. Pagi ini saya lihat komentar Dian Sastro di infotainment, yang antara lain dengan adanya sensor mengandaikan kecerdasan masyarakat Indonesia itu 0 masyarakat yang mana ? tolong mba jangan bicara masyarakat , dan maaf anda belum punya anak JADI TIDAK TAHU bagaimana sulitnya mengasuh anak di zaman seperti ini. Memang anak tanggung jawab orang tua tapi tidak selamanya orang tua bersama anak ada hal-hal lain yang juga harus di perhatikan. Ingat anak masa depan bangsa jadi bangsa juga bertanggung jawab terhadap anak sebagai aset masa depannya. Tidak mungkin memang mensterilkan anak tapi bukan berarti juga sengaja membiarkan anak terbentur dengan hal yang pasti merusak jiwanya. Dengan adanya LSF saja kalian berani membuat film bejat Konon lagi tidak ada LSF seperti itu dan jangan bilang lagi fenomena itu NORA gak mutu. . LSF meminimalisir hal-ahal yang tidak pantas untuk di lihat bukan saja oleh anak-anak tetapi juga oleh manusia dewasa yang normal karena hanya orang-orang yang tidak normal saja yang butuh adegan mesum seperti itu. AYO DONG yang peduli akan keberadaan LSF berikan dukungan untuk lSf jangan sampai negara ini lebih hancur hanya karena segelintir orang yang berlindung di balik seni tapi jelas UUD ujung-ujungnya DUIT
#fera = komentar anda banyak dan menarik sekali. saya sebenarnya melihat dari 2 hal. pertama adalah masalah seni dan yang kedua adalah masalah pendidikan . OK lah, apresiasi dan mengekspresikan seni itu boleh saja asal tahu aturan. yang kedua adalah pendidikan dengan adat ketimuran. bayangkan kalau ada adegan mesum di tonton oleh anak kecil, apa gak kasian sama petugas sensus penduduk….. karena kebanyakan angka kelahiran
Ass.wr.wb
Para pengusung kontra LSF (Riri Riza, Rieke Dyah Pitaloka, Dian Sastro, Ratna Sarumpaet) mengatakan bahwa jika LSF tidak dibubarkan maka Pemerintah menganggap bahwa bangsa Indonesia itu bodoh, karena mereka (bangsa Indonesia) meskipun sudah di sensor mereka masih bisa mendapatkan film aslinya (sebelum disensor).
Pernyataan ini sebenarnya sebagai bumerang buat mereka.. disensor oleh LSF aja mereka sudah bisa mendapatkan film aslinya apalagi tidak disensor.
Sungguh naif…
saya bapak punya anak dua..
terima kasih atas komentar ibu fera dan alfaroby.
saya setuju dengan ibu Fera. Walaupun saya belum menjadi seorang ibu. Tapi, alasan itulah yang paling mendasar, yang patut untuk didengar dan diperhatikan oleh orang-orang yang tergabung dalam MFI.
MFI mengatasnamakan masyarakat. Masyarakat yang tidak tahu apa-apa; yang hanya tahu bagaimana memenuhi kebutuhan hidup, mengisi perut, dan mempertahankana hidup. MAsyarakat yang begitu polos dan lugu, tapi diatasnamakan oleh sebuah kumpulan orang-orang egois. Benar bu Fera…semua ini akan berakhir pada UUD [ujung-ujungnya duit].
Mbak Mira, MAs Riri, Mbak Dian, kalian tuh udah pinter…mengennyam pendidikan sepuasnya, lalu tak terpikirkah oleh kalian yang lain?